Anand Krishna

Anand Krishna adalah pria keturunan India kelahiran Solo, Jawa Tengah, 1956. Pendidikan dasarnya dia peroleh di Lucknow, di Negara Bagian Uttar Pradesh, India. Sejak usia amat muda, melalui bimbingan ayahnya, dia sudah berkenalan dengan ajaran Shah Abdul Latief, seorang mistik sufi yang amat dia kagumi. Di samping itu, dia juga merupakan murid termuda dari Sheikh Baba, mistik sufi yang sehari – hari sebagai tukang penjual es balok. Dari Pasific Southern University, USA, dia mengantongi gelas MBA, dan dengan modal itu dia berkutat dalam dunia bisnis modern sebagai Marketing Director ( Sainath Group of Companies, Indonesia, 1979-1986), CEO (D`jar Inc., USA, 1986-1989) dan Director / Shareholder (Svarna Artha Interbuana, Jakarta, 1989 – 1991).

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1999/06/07/BK/mbm.19990607.BK95187.id.html

Pengembaraan Anand Krishna

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1999/06/07/BK/mbm.19990607.BK95187.id.html

Hidup Anand Krishna memang penuh ”keajaiban”. Saat dia mencapai usia 44 tahun, dia menghadapi saat tersulit dalam hidupnya: dokter menemukan penyakit leukemia darah yang sudah akut dalam tubuhnya dan memberikan semacam ancar-ancar ”hari mati” kepadanya.

Pengusaha garmen yang sukses ini kembali ke Jakarta, menjual semua pabrik garmennya, menutup bisnis, dan mulai memikirkan kata-kata di atas dengan serius sembari bermeditasi. Dalam waktu satu minggu, kesehatannya berangsur pulih. Bukankah itu ajaib? Padahal, selama hampir setahun, ia mencoba menjadi langganan berbagai rumah sakit dan berobat ke sekian dokter. ”Tidak ada mukjizat, tidak ada jimat, tidak ada mantra.… Meditasi membuat terjadinya perubahan pada pandangan saya terhadap hidup,” tuturnya kepada TEMPO di Pusat Meditasi dan Holistik Anand Ashram, di kawasan Sunter.

Kebetulan, meditasi menjadi sebuah trend bagi kaum ekspatriat di Indonesia, seperti halnya selebriti di Hollywood yang tergila-gila dengan meditasi dan yoga ala Deepak Chopra. Dan betapa ajaibnya, pria alumni Pacific Southern University yang dibesarkan dalam lingkungan pedagang ini tiba-tiba saja bisa menulis. Bayangkan, dalam waktu delapan tahun, dia bisa menulis 21 buku. Laris, lagi.

Lahir di Solo pada 1956, Anand adalah pria keturunan India yang mengenal sufisme sejak usia 11 tahun. Pada usia semuda itu, Anand cukup beruntung bisa mengunjungi Kota Lucknow, di Negara Bagian Uttar Pradesh, yang dianggap sebagai salah satu pusat kebudayaan Islam. Di sanalah ia berkenalan dengan sekumpulan remaja yang menari dalam irama tertentu setiap malam pada musim dingin. Ia mengaku, itulah perkenalannya yang pertama dengan dunia mistik sufi.

Ia tak pernah mempelajari agama-agama secara akademis, tetapi mengaku memiliki apresiasi spiritual terhadap kitab-kitab berbagai agama. Tidak aneh jika buku-bukunya cenderung memperlihatkan berbagai persamaan antaragama karena ia menganggap bahwa ia sedang ”berupaya menyelami setiap pandangan tentang agama dan menemukan benang merahnya.” Untuk orang yang tak pernah mempelajari teologi, sejarah, atau filsafat secara formal, Anand boleh dikatakan termasuk ”berani” karena menerbitkan buku-buku semacam Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan—Apresiasi Spiritual terhadap Taurat, Injil, dan Alquran; atau Wedhatama bagi Orang Modern.

Sebuah harian terkemuka bahkan membuat profilnya besar-besaran, lo. Bagaimana bisa? Berikut petikan wawancara Mustafa Ismail dan Hermien Y. Kleden dengan penulis produktif ini:

Bagaimana cara Anda mempertahankan produktivitas ini: 21 buku dalam delapan tahun?

Buku pertama saya adalah hasil rekaman dari ceramah dan latihan meditasi yang saya berikan kepada teman-teman ekspatriat. Rupanya, seorang dari mereka selalu merekam acara itu. Pada 1994, tatkala ia pulang ke Amerika, hasil rekaman itu ia serahkan kepada saya untuk dibukukan. Lima buku pertama saya praktis merupakan rekaman ceramah meditasi antara 1992 dan 1997. Setelah itu, karena animo pembaca bagus—dan ternyata ada juga penghasilannya—saya menyisihkan empat-lima jam setiap hari untuk menulis.

Bagaimana upaya menerbitkannya?

Buku-buku itu tadinya ditulis dalam bahasa Inggris. Beberapa teman menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Saya mengedit dan mengoreksinya kembali. Lagi-lagi, seorang kawan mengirimkannya ke Gramedia. Tiga bulan kemudian, saya mendapat kabar naskah itu bisa diterbitkan.

Siapa pembaca yang Anda targetkan?

Orang-orang yang punya pendidikan, setidaknya kalangan akademis. Ternyata saya keliru. Ada tukang becak membaca buku saya dengan serius. Waktu saya lewat di Yogya, dia memanggil: ”Pak Krishna, ya?” Dia tahu saya dari buku-buku itu. Anak-anak SMP, misalnya, banyak juga yang membaca buku-buku saya.

Buku-buku Anda ini, dalam hal tertentu, sepertinya hanya merupakan kompilasi apresiasi spritual terhadap kitab-kitab agama?

Tidak selalu. Namun, kitab-kitab itu memang menjadi salah satu sumber utama pemahaman saya. Saya memang bukan ahli bahasa, buku, atau sastra, sehingga banyak kelemahan. Namun, kekuatan saya adalah saya bicara dalam bahasa yang bisa dipahami semua orang.

Apa inti seluruh apresiasi spiritual yang ingin Anda katakan?

Seandainya kita lebih saling mengenal dan mencinta, kekeliruan pandangan dan pengotakan dalam agama tidak akan terjadi.

Anda bilang pernah hampir mati dan hidup lagi hanya karena meditasi selama seminggu. Bagaimana menjelaskan ini dengan logis?

Karena saya percaya. Saya hidup dan yakin dengan kepercayaan bahwa saya akan sembuh. Dan itu membuat saya relaks. Ini bukan sesuatu yang bersifat mantra atau keajaiban. Ini pengalaman yang sangat empiris.

Apakah Anda merasa masyarakat membutuhkan apa yang Anda katakan?

Sama sekali tidak. Saya berpikir saya tengah berbicara dan menjerit di tengah hutan belukar, menjerit-jerit tanpa mengetahui ada yang mendengar atau tidak.

Omong-omong, berapa jam sehari Anda bermeditasi?

Dua puluh empat jam. Meditasi adalah menjaga kesadaran setiap saat sehingga tetap seimbang saat dipuji, dicerca, dilanda kesedihan, dan kegembiraan.