Bersahabat Dengan Hewan sebagai Salah Satu Terapi Penyembuhan Diri

Terapi Penyembuhan Diri – Dalam salah satu buku serial chicken soup of the soul yang terkenal itu, saya paling suka tentang kisah persahabatan manusia dengan hewan. Hewan, utamanya hewan peliharaan sudah sejak lama dipercaya sebagai salah satu metode penyembuhan batin bagi penyakit mental yang diderita manusia. Ada banyak kisah-kisah yang menginspirasi, mengharukan dan menakjubkan yang saya baca, bagaimana hewan dapat menjadi media penyembuh yang kadang jauh lebih efektif daripada obat-obatan mahal berharga jutaan rupiah. Hubungan batin dan jalinan kasih antara pasien manusia dan sang “dokter” seperti anjing dan kucing atau kuda, lebih terbukti mampu membangkitkan energi positif hingga si pasien mampu untuk kembali percaya diri.

childrencat300Bagi  sebagian orang yang dekat dengan hewan dan juga para penyayang hewan sejati, tentu mampu memahami bagaimana berkomunikasi dengan hewan dengan metode spiritiual / telepati. Kadang kita menjumpai bagaimana seseorang begitu serius bicara dengan hewan. Atau seorang anak bercerita pada anjing kesayangannya, sementara si anjing dengan tekun ikut mendengarkan dan sesekali mengeluarkan suara seakan memahami apa yang dikatakan si anak. Begitulah manusia dan hewan senantiasa salaing berkomunikasi dengan caranya sendiri sejak jaman dulu kala.

Hewan adalah makhluk Tuhan yang juga memiliki ikatan batin, dan juga kebutuhan batin tertentu pada lingkungan sekitarnya. Hubungan hewan dengan manusia memang umumnya pasang surut dan tergantung kepentingan, bila dilihat dari sisi manusia.

Namun ada banyak tentunya hubungan manusia dan hewan tak selalu bisa diukur sebatas kepentingan fisik dan materi  semata. Banyak yang lebih dari itu. Melebihi hubungan dengan kekasih ataupun teman sendiri. Terhadap hewan peliharaan misalnya. Bagi keluarga penyayang hewan, mereka tak lagi hanya sebatas penjaga rumah ataupun  teman bermain. Tapi sudah sebagai darah daging dari keluarga tersebut. Hingga dihitung sebagai salah satu anggota keluarga yang mempunya hak dan kewajiban yang sama dengan anggota kelaurga lainnya. Tentunya sesuai dengan kapasitas dan tugasnya masing-masing.

Di beberapa negara, anjing dan kucing bahkan sudah dapat dimanfaaatkan sebagai media penyembuhan bagi pasien-pasien yang mentalnya bermasalah. Sebelumnya saya pernah memberi contoh di artikel kabarsehat terdahulu, bagaimana seorang nenek yang tak pernah mau bicara dengan siapapun, dan hanya diam duduk sambil memandang  kedepan berjam-jam, pada akhirnya hanya dapat digerakan hatinya dengan seekor anjing yang memang sudah dilatih sebagai salah satu terapi dalam penyembuhan pasien-pasien. Sang nenek akhirnya pelan-pelan namun pasti  mulai memiliki “kesadaran” pada lingkungan sekitarnya. Padahal sang anjing hanya disuruh pelatihnya duduk diam dihadapan pasien setiap hari selama 15 menit tanpa diacuhkan pasien. Namun sedikit demi sedikit, pasien (sang nenek) mulai memegang kaki si anjing yang sebelah kakinya selalu dia letakkan dilutut nenek sebagai upayanya mencari perhatian. Dimulai dengan memegang kaki sang anjing, membelai kepalanya, hingga akhirnya sang nenek mau mengeluarkan suaranya menyapa sang anjing yang tetap setia tak bergeming mengikuti perkembangan perubahan sikap manusia di depannya. Sang anjing dengan sabar meresponnya dengan tidak berlebihan, seolah tahu memang demikianlah pasien harus diperlakukan. Sabar dan tak boleh disakiti.

Bagi sebagian orang, hewan adalah belahan jiwa. Saya ingat bagaimana pada waktu sekolah dulu, setiap pulang sekolah kucing-kucing saya selalu menyambut saya di pintu depan. Atau anjing teman saya yang selalu berlari-lari menyambut kedatangan teman saya sepulang sekolah. Membuat saya terkagum-kagum. Film-film tentang kesetiaan  hewan pada tugasnya menjaga manusiapun sudah banyak dibuat. Film-film serperti ini bila ditonton anak-anak, saya yakin akan mampu menimbulkan rasa kasih anak pada hewan. Dan belajar untuk mencintai serta menghargai hewan hewan sebagai salah satu makhluk Tuhan yang kadang patut kita teladani.

Saya sendiri dulu, selalu merasa bahagia berada ditengah kucing-kucing saya dalam keadaan apapaun. Dalam kesedihan, kucing sayalah yang mampu membuat saya tersenyum. Rasa lelah sepulang dari aktifitas luar segera hilang begitu melihat mereka mengelilingi dan berebut berlompatan di kaki saya. Kalau sahabat manusia hanya sedkit, maka bersahabat dengan hewan peliharaan bisa sebagai salah satu alternatif untuk memiliki sahabat sejati.

Hewan selalu dapat dipercaya, selama kita memperlakukannya dengan penuh kasih dan perhatian akan kebutuhan dirinya. Tidak seperti manusisa yang mudah lupa dan mbalelo, maka hewan bila sudah terlatih, akan selalu setia pada ingatannya atau tugasnya. Belum pernah saya mendengar ada hewan berkhianat. Kalau sampai terjadi, sudah dapat dipastikan, manusia jugalah penyebabnya.Karena hewan hanya mengikuti nalurinya.

Maka bila kita memiliki hewan peliharaan, bila memungkinkan, jagalah juga kesehatannya. Karena mereka juga mampu menjaga kesehatan jiwa kita bila kita tahu memanfaatkannya. Yaitu dengan rasa kasih dan perhatian. Hewan tak pernah meminta lebih. Cukup makanan, dan perhatian yang tulus dari kita. Kalau kita memberikan semacam bonus berupa perwatan dokter, salon hewan, ataupun makanan tambahan, itu adalah sebagai rasa ungkapan terimakasih yang tak semua hewan mendapatkannya. Dan mereka dijamin tak kan kecewa bila tak mendapatkannya.

Berbahagialah dengan hewan peliharaan anda. Dan jadikan mereka sebagai salah satu sumber kebahagiaan dalam hidup anda.

Oleh Sayuri Yosiana