Article

Catatan Kecil Yosi Ken: Sebuah Kenangan Tentang Kucing-kucingku

Tidak ada yang abadi, semua akan berakhir dengan sendirinya. Lambat atau cepat. Yang tertinggal hanya kenangan. Maka hargailah kebersamaan yang masih tersisa. SY

 

Ini adalah sedikit catatan kenangan untuk mengenang kucing-kucingku. Ditulis dalam keadaan berduka, jadi sebenarnya hanya sebuah curhat untuk membantu meredakan lubang dihati saya yang menganga lewat tulisan.

Tahun 2019 segera berakhir. Bagi saya, tahun ini penuh kebahagiaan, kerepotan, sekaligus kesedihan pada akhirnya. Karena dalam empat bulan ini saya harus kehilangan lima ekor kucing yang saya pelihara sejak mereka kecil, terlantar dan kelaparan. Saya selalu yakin, kucing selalu memberi saya keberkahan hidup berupa perasaan bahagia yang mungkin sulit dimengerti oleh yang bukan pencintanya.

Sejak kecil hidup saya sudah dilimpahi kasih saying kucing dan juga sebaliknya. Saya melimpahi mereka dengan kasih sayang, mesikupun kalau sedang badmood kadang saya suka teriakin mereka, menyentil kupingnya, atau menggelitiknya. Ada saat dimana muncul perasaan hopeless saat tak bisa selalu bermain bersama mereka karena harus beraktivitas. Tapi mereka menjadi penyemangat hidup, pemberi kekuatan dan ketegaran untuk bertahan hidup, saat kehilangan harapan, semangat dan mengalami kelelahan akut dikarenakan penyakit yang saya derita.

Kucing-kucing yang saya pelihara sebagian besar kucing kampung yang entahlah, mungkin sudah ditakdirkan untuk menemani hidup saya meskipun singkat. Mereka hadir dalam hidup saya tanpa pernah direncanakan. Hadir begitu saja. Mengetuk perasaan cinta dan rasa iba yang akhirnya membuat hubungan kami yang tadinya hanya sebatas memberi makan sekedarnya saat mereka hadir di dapur, menjadi semacam kewajiban untuk lebih memperhatikan kesehatan mereka serta perlindungan. Maka jadilah sebuah persahabatan sejati yang timbul dari perasaan sepi dan saling membutuhkan kehadiran satu sama lain.

Layaknya hidup, tak selalu berjalan mulus. Saat ada diantara mereka yang sakit, saya berusaha mengobati dengan berbagai jalan. Betapa senang saat mereka kembali nafsu makan, mulai bugar dan berlari-lari kearah saya dengan mata bercahaya. Mereka adalah anak-anak saya. Belahan jiwa. Saat mereka sebagian menghilang beberapa hari dan datang ada luka karena musim birahi, saya panik dan sibuk memberi mereka ketenangan dan mengobati disertai ucapan-ucapan cinta. Kucing sangat memahami perasaan pemiliknya. Mereka peka meskipun terlihat cuek dan sulit diatur.

Memasuki bulan September tahun ini, beberapa kucing saya pendatang baru yang baru beberapa bulan saya asuh, tiba-tiba saja sakit. Agaknya terserang virus. Dan satu demi satu mati dalam pelukan. Sungguh saya didera rasa sakit yang dalam sekaligus rasa lega melihat mereka sudah lepas dari derita. Mereka saya makamkan di halaman rumah. Agar selalu dekat dengan saya. Agar kami dapat terhubung dengan saling melihat dari dunia kami masing-masing. Kadang saya membayangkan mereka tiba-tiba saja keluar dari tanah dan berlarian memeluk saya. Dan khayalan-khayalan seperti ini sering mengalirkan air mata di pipi. Terakhir kucing saya tersayang bernama popi. Panggilan sayangnya Mpop. Meninggalkan saya untuk selamanya tanggal 29 kemaren sore hari. Saya melihatnya sudah tergeletak. Saya tahu itu popi. Saya mendekati untuk memastikan. Saya tak bisa menangis. Saya peluk dia dan bawa masuk ke rumah. Saya menangis tak tertahan tapi tidak ada air mata yang keluar. Maka segera saya siapkan pemakaman penuh cinta. Lewat tangan saya sendiri. Saya bersyukur masih sempat melihatnya dipinggir jalan pagar rumah orang, dimana ia tergeletak. Andai dibuang orang, saya tak bisa menemukannya lagi.

Saya merasakan kesepian yang sangat saat mengenang mereka kembali. kIni saya harus siap menghadapi segala kenangan yang mereka tinggalkan saat bersama saya. Masih ada kucing-kucing tersisa Bersama saya. Mereka juga pasti kehilangan. Karena rumah kecil yang tadinya ramai ini, tiba-tiba mulai menyepi. Kemana teman-teman serumah pergi? Mungkin begitulah pikiran kucing-kucing yang masih hidup. Saya menangis

Bersama mereka. Kami saling menguatkan dengan kata-kata, bahwa kami akan segera bertemu lagi, berkumpul lagi, bergembira dan mengatasi kesulitan bersama lagi, hingga segalanya baik-baik saja. Disetiap sudut rumah dan halaman adalah milik kucing-kucing saya. Seakan mereka masih terlihat sosoknya duduk manis, menjilati tubuhnya atau naik ke perut dan mencolek-colek pipi saya. MARU yang lebih dulu pergi jelang akhir tahun 2017, yang suka sekali memainkan dan menarik-narik rambut saya. CUNI yang saya temukan di genteng rumah orang dan tumbuh cantik dan suka takut-takut. LALA si cantik yang manja dan senang menguber Pop. OKa yang saat dating sehat tapi entah kenapa agak miring-miring jalan dan kepalanya kemudian, suka sekali duduk di dada dan menggigit jari-jari saya. KIKI yang paling muda yang takut-takut dan suaranya seperti bayi, tumbuh tampan dan akrab dengan semua sudara-sudara barunya. WINI yang terakhir bergabung, mati belum genap sebulan tinggal bersama saya. Wini amat sayang dengan saya. Seperti Oki si belang telon, Wini amat suka duduk di dada dan mencolek-colek pipi dan mulut saya. Dan terakhir Si POPI tercinta yang sebenarnya sudah dua setengah tahun Bersama. Genap sudah saya meninggalkan tahun 2019 dengan penuh kenangan Bahagia dan sedih. Tinggal Roni, Fuku, Loli dan si cantik Meiko yang menemani hari-hariku kini.

Kini saya harus tetap move on karena beberapa kucing yang masih menemani hingga kini.
Selamat jalan Mpop sayang. Sampaikan salam penuh rindu untuk sudara-sudaramu di taman syurga. Kini Momi sudah nggak perlu lagi mencemaskan kalian. Karena sudah berada ditempat terbaik disisi Tuhan. Makan enak, berlari-lari penuh kebebasan ditaman yang luas. Biarlah Momi di sini masih bertahan hidup dan bertahan menghadapi kenangan. Semua sudut adalah tentang kalian. Maafkan Momi kalua pernah menyakiti kalian, menyentil dan memarahi saat kalian nakal. Kini Momi malah rindu kenakalan kalian. Momi nyesal tak bisa memberimu yang terbaik segalanya. Momi menyesal tak bisa menepati janji-janji pada kalian. Maafkan semua kesalahan. Jangan lupakan Momi, pus. Momi ingin berkumpul lagi Bersama kalian kelak ditempat terbaik. Doakan ya pus. Kita semua akan dipertemukan lagi. Saling melepas rindu.

Terimakasih sudah pernah hadir dalam hidupku. Terimakasih untuk segala rasa cinta kalian padauk, pus. Terimakasih telah menjadi temanku, mengisi hari-hariku, memasuki duniamu yang indah, lucu dan menggemaskan. Selamat jalan pus Maru, Cuni, Lala, Oki, Kiki, Wini, Dan Popi. Aku Bahagia pernah hadir dalam hidup kalian. SElamat tahun baru saying. Datanglah selalu dalam mimpiku…

Akhir Desember Selasa pagi 31 tahun 2019.

Yosi Ken

Kau tahu, langit diatasku mendung
Pergi bersama sunyi

Show More

Related Articles

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker