Gejala ISPA dan Pneumonia pada Covid19 dan Virus lainnya

Covid19 bukanlah satu-satunya virus penyebab ISPA ringan hingga ISPA berat dengan pneumonia yang menular.  Gejala ISPA ringan hingga ISPA berat dengan pneumonia pada Covid19 dan virus pernapasan lainnya tidak jauh berbeda.

Gambaran gejalanya antara lain :

1. RSV

RSV biasanya bermanifestasi sebagai penyakit pernapasan bagian atas, dengan kemungkinan keterlibatan saluran pernapasan bagian bawah, dan temuan riwayat dan pemeriksaan berbeda berdasarkan lokasi dan tingkat keparahan penyakit. Jika terbatas pada saluran pernapasan bagian atas, RSV hadir dengan rhinorrhea, hidung tersumbat, batuk, bersin, dan terkadang demam dan mialgia. Pada beberapa pasien, terutama mereka yang memiliki faktor risiko penyakit berat yang berusia di bawah 2 tahun, RSV akan berkembang menjadi keterlibatan saluran pernapasan bawah dengan berbagai permutasi dari temuan klasik bronkiolitis: suara napas ronki, takipnea (terengah2), penggunaan otot aksesori, mengi , dan ekspirasi memanjang.

Dalam kasus yang parah, mungkin juga hadir dengan temuan pneumonia virus, hipoksia, lesu, apnea, dan gagal pernapasan akut.

Referensi: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459215/

2. Rinovirus (HRV)

Orang yang terinfeksi RSV, 50% mengalami ISPA gejala ringan khas pilek dan hidung tersumbat, termasuk rinore, sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala, demam subjektif, dan malaise.

Sekitar 5 persen orang dewasa rentan, khususnya penderita asthma dan penyakit paru, bisa mengalami ISPA berat atau pneumonia dg gejala batuk, sesak napas, dada sesak dan mengi. Meskipun para ahli berbeda pendapat mengenai RSV dapat menyebabkan pneumonia.

Ada ahli yang berpendapat, hal itu karena efek reaksi imun atas infeksi di saluran atas, ada yang berpendapat koinfeksi dengan vrs dan bakteri lain, ada yang berpendapat RSV hanya kontaminan saat uji lab, ada juga yang berpendapat, RSV bisa replikasi di saluran bawah meski suhu di atas 33 decel.

Referensi: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3378761/

3. Parainfluenza

Gejalanya meliputi otitis media, faringitis, konjungtivitis, croup, tracheobronchitis, dan pneumonia. Manifestasi pernapasan yang jarang termasuk apnea, bradikardia, parotitis, dan sindrom gangguan pernapasan dan infeksi yang jarang menyebar.

Pneumonia fatal dapat terjadi pada orang tua dan orang dewasa dengan gangguan sistem imun.

Referensi: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7171724/

4. Adenovirus

Gejala termasuk keratokonjungtivitis epidemik, sistitis hemoragik akut, dan gastroenteritis, demam, faringitis, adenopati serviks, coryza, mata berair, urin berdarah kotor, dan dispnea.

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adenopati servikal, faringokonjungtivitis, dan tonsilitis.

Referensi: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559072/

5. Covid19

Pada umumnya yaitu sekitar 80 persen mengalami gejala ringan seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, sesak napas, kelelahan, dan malaise.

Banyak yang melaporkan adanya anosmia, meski orang yang terinfeksi HRV juga bisa mengalami anosmia.
Pada beberapa orang lainnya (biasanya orang tua dan orang-orang dengan komorbiditas), gejal tersebut mungkin bisa berkembang menjadi pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) dan disfungsi multi organ.

Referensi:

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17277621/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7090728/

6. Influenza H1N1

Gejala termasuk demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri tubuh, sakit kepala, kedinginan, dan kelelahan. Sejumlah besar orang juga melaporkan diare dan muntah.

Gejala dapat lebih serius pada orang yang rentan seperti anak kecil, wanita hamil, orang dengan kondisi medis kronis (diabetes, obesitas, jantung, ppok, auto imun, cancer dll) dan orang berusia 65 tahun ke atas. Mereka dapat mengalami gejala demam tinggi (menyebabkan masalah neurologis), pneumonia (menyebabkan sepsis), dehidrasi dan hipotensi berat (akibat muntah dan diare), komplikasi terkait ketidakseimbangan elektrolit, dan gagal ginjal.

Referensi:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2765289/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513241/

7. Influenza H5N1

Demam, sakit kepala, malaise, mialgia, sakit tenggorokan, batuk, rinitis konjungtivitis dan gejala gastrointestinal (tetapi jarang terjadi), sesak napas, napas, dan kegagalan multi organ termasuk leukopenia, limfopenia, gangguan fungsi hati, waktu pembekuan berkepanjangan, dan gangguan ginjal.

Referensi:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1865597/
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18366521/

8. Sars

Gejala SARS juga terdiri dari gejala ringan hingga berat. Gambaran klinis utama meliputi demam persisten, menggigil, mialgia, malaise, batuk kering, sakit kepala, dan dispnea.

Jarang terjadi batuk berdahak, sakit tenggorokan, coryza, pusing, mual, muntah dan diare. Gejala berat meliputi sesak napas, pneumonia, ARDS, dan kegagalan multi organ.

Referensi: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558977/…

Dan masih ada beberapa virus lainnya lagi yang menjadi penyebab ISPA dan pneumonia.

(Nurul Indra)

Leave a Comment