Manis Getirnya Persahabatan

Keep smiling,persahabatan
Keep shining
Knowing you can always
count on me, for sure
that’s what friends are for
in good times and bad times
1’ll be on your side forever more
That’s what friends are for

Lagu yang di lantunkan oleh Gladys Knights ini akan selalu mengingatkan kita betapa pentingnya sebuah persahabatan. Ketika bintang film rock Hudson yang homo itu meninggal karena penyakit AIDS, seluruh dunia menghujatnya. Namun para sahabatnya Liz Taylor, dan Linda Evans dan yangg lainnya tidak lalu meninggalkannya, mereka justru membuat yayasan AIDS yang di persembahkan untuk mengingatnya.

Ketika individualisme dan materialisme semakin merajalela, sosok sahabat menjadi komoditi yang mahal. Apakah anda termasuk salah satu yang beruntung mendapatkannya?

Sahabat bagi jiwa, pernah dengar ungkapan tersebut? Mungkin bisa di persepsikan bahwa sahabat termasuk hal yang amat penting bagi sisi rohani manusia. Bahkan tumbuhan dan hewanpun memerlukan sahabat. Semua makhluk hidup penting punya sahabat. Setidaknya mungkin teman baik.

Memang belum saya temukan artikel yang membahas bahwa tumbuhan pun memerlukan sahabat. Sahabat sesama tumbuhan maksudnya, Tetapi siapa dapat menyangkal bahwa makhluk hidup lainnya sejak jaman dulu kala telah menjalin persahabatn dengan manusia di manapun berada.

Yang paling menonjol tentunya hubungan persahabatan antara manusia dengan hewan seperti anjing dan kucing serta kuda. Kita bisa lihat bagaimana seorang  sahabat bisa bermain , bergembira dengan hewan piaraannya. Saya mempunyai suatu pengalaman unik dengan kucing-kucing piaraan saya.

Waktu saya masih sekolah, tiap kali saya sakit, kucing-kucing saya dilarang masuk rumah oleh keluarga saya. Saya tidak boleh bersentuhan dengan mereka, apalagi menggendongnya. Interaksi hanya bisa di lakukan lewat saling tatap dari kisi-kisi jendela kamar di sebelah tempat tidur saya.

Saling tatap? Ya betul, tiap pagi, siang, sore, dan malam jelang tidur, saya menengok mereka di bawah jendela kamar saya. Dan mereka sudah ngantri menanti di bawah sana seakan berbaris untuk menyapa saya. Bahkan yang membuat saya geli sekaligus terharu, karena pernah saya sengaja melongokkan kepala di saat mereka sedang asyik makan jatah makan siang mereka . Saya intip, mereka asyik melahap makanan dan minum susu. Lalu saya keluarkan kepala saya sedikit, dua kucing yang asyik minum susu segera menoleh dan langsung berlari- lari kecil menghampiri jendela saya. Duduk manis dengan sekitar mulut mereka masih berlepotan susu. Mereka berebutan mengeong menyapa saya. Mereka bersuara lirih sambil beberapa diantaranya menggapai tangannya sambil berdiri dengan dua kaki mereka kearah jendela saya. Makanan yg baru mereka santap dan susu yang belum habis terminum, langsung mereka hentikan, hanya karenamelihat saya mengulurkan kepala.

Sampai sekarang saya tak pernah melupakan moment-moment indah tsb. Karena saya melakukannya 3x saja sepanjang sakit. Dan hal tsb berulang kembali. Adakah kehadiran saya begitu penting bagi sahabat2 kecil saya tersebut? Saya tidak tahu. Selebihnya saya tak ingin menggangu konsentrasi mereka di saat makan dan minum, dan mereka masih sesekali menoleh kearah jendela saya mungkin mengira akan melihat senyum manisku hehe…

Alhasil, saya tak pernah merasa kesepian saat sakit, fisik saya sakit, tapi tidak sampai ke batin saya saat itu.

Saya pernah membaca sebuah buku yg menceritakan betapa seorang ibu dipanti jompo yang tidak pernah merespon apapun pada kehadiran manusia selama bertahun tahun, dapat di sembuhkan stimulasi otak dan hatinya hanya oleh seekor anjing, yang memang bertugas menemani para pasien penyakit mental. Setiap 15 menit sehari, si anjing dengan di temani salah seorang perawat nenek tsb, duduk diam tepat di hadapan si nenek yang tanpa ekspresi menatap terus menerus ke depan tanpa pernah perduli pada keadaan sekelilingnya. Hal itu sudah berlangsung bertahun tahun. Perawat sudah putus asa mengajaknya berbincang. Namun seekor anjing penjaga yang terlatih menghadapi aneka pasien bermasalah, ternyata mampu melakukannya, melebihi perawat professional tsb.

Hal tsb tentu tidak serta merta, tapi perlahan namun pasti. Hari demi hari sang anjing kerjanya hanya memandangi si nenek, sambil salah satu kaki depannya  di tumpangkan ke lutut si nenek seolah sedang memberinya spirit, atau mungkin bermaksud menarik perhatiannya.

Sang nenek pada awalnya tak menggubris kehadirannya selama  berminggu minggu, namun yang terjadi kemudian  nenek tersebut mulai mau membalas tatapan si anjing, lalu hari hari berikutnya Sang nenek mau memegang tangan sang anjing yang selalu diletakkan di lututnya, kemudian hari hari berikutnya mau mengelus kepala sang anjing.   Anjing tersebut tak bergerak sedikitpun pada setiap respon yang di berikan Sang nenek . Mungkin dia tahu bahwa misinya telah berhasil tanpa harus bereaksi berlebihan sehingga bisa mengagetkan si nenek. Alhasil minggu minggu berikutnya perkembangan hubungan batin mereka mulai tersambing dengan baik dan mampu mengembalikan sisi kehidupan si nenek pada keadaan di sekitarnya. Dan anjing tersebut menjadi temannya untuk berjalan jalan, makan siang, dan bercerita. Dia menjadi pendengar setianya meskipun responnya hanya berupa gonggongan sesekali , yang menandakan bahwa ada kendala bahasa diantara persahabatan mereka, namun komunikasi bisa tetap berjalan dengan baik.

Nah, kalau dengan hewan saja hubungan persahabatan bisa demikian indahnya . Bagaimana dengan hubungan persahabatan diantara sesama manusia?

Prolog diatas mungkin bisa kita ambil sebagai salah satu contoh, bahwa persahabatan adakalanya lebih erat justru disaat kita bisa memahami situasi dan kondisi para sahabat kita. Tidak selalu dalam suka, namun justru di saat sahabat kita tengah di landa musibah.

Sayangnya kita hanya sering di suguhkan tentang persahabatan yang penuh wara wiri di televisi. Hobi belanja yang sama, hobi dugem yang sama. Sampai hobi  mengikuti komunitas yang serba sama. Tentu saja semua itu tidak salah, itu adalah sahabat dalam suka cita,  namun bagaimana sahabat dalam duka cita? Saat ayah kita menjadi tersangka korupsi? Saat gagal jadi calon legislatif karena tersangkut money politik? Saat di asingkan karena perbedaan prinsip dengan pemerintah? Dipenjara dll

Ternyata masih banyak sahabat sahabat dalam duka. Mereka datang, mendukung agar kita tabah. Semestinyalah sebagai sahabat kita juga harus pandai membaca situasi. Jangan malah  mempersalahkan mereka, walaupun mereka memang bersalah misalnya. Tapi  mengingatkan mereka  dengan kata-kata halus  namun penuh empati.  Sekedar mengingatkan mungkin akan membuat mata batinnya terbuka, bagi sahabat kita yang terlibat narkoba misalnya.

Jangan salah, sahabat sejati  tak akan mengkhianati sahabatnya dalam hal apapun. Tapi sahabat sejati harus menjadi penasehat utama setelah keluarga besar nya.

Karena biasanya, kalau keluarga sudah tak lagi mempan untuk mengingatkan anaknya, giliran para sahabatnyalah yang tentunya di harapkan keluarganya mampu menerima nasehat pada sorang sahabat yang salah jalan. Teman biasanya lebih di dengar dari pada keluarga bagi seorang anak yang broken home. Seorang anak bisa kembali pada keluarganya atau malah menjauhi keluarganya, hanya gara-gara teman teman dekatnya.

Guruh Sukarno Putra, seorang seniman yang juga politikus punya pandangan sendiri tentang makna seorang sahabat. Di masa remaja guruh melihat sahabat sebagai orang dalam keseharian selalu bersamanya, seperti teman main band,hura hura, atau teman ‘senasib’. Disaat dewasa maka arti persahabatanpun semakin luas. Siapapun yang bersikap baik terhadapnya , maka dianggapnya sebagai sahabat.

Kita harus membina persahabatan sebanyak banyaknya. Dalam bisnis saya punya sahabat,begitu pula dalam kesenian,bahkan dalam politik”. Ujarnya, tersenyum.

Hanya saja semakin dewasa persahabatan nampak makin mengendur, bukan dari segi nilai, melainkan akibat realita kehidupan seperti kehidupan masing-masing atau tempat tinggal yang berjauhan.

Benar sekali bahwa untuk tetap menjalin persahabatan idealnya adalah tetap menjaga komunikasi termasuk diantaranya bersilaturahmi.

Guruh menempatkan sahabatnya pada porsi masing masing. Jika ada unek unek politik, maka guruh akan mencurahkannya pada sahabat politiknya.

Begitu pula terhadap hal hal yang menyangkut seni. Maka ia akan berbagi cerita pada sahabat seninya.

Namun karena cukup lama terjun dalam dunia politik, guruh sadar, bahwa sahabat dalam politik tidak ada yang permanen. Satu detik teman, detik berikutnya bisa jadi musuh, lalu detik berikutnya bisa jadi teman lagi.. “Karena dunianya sudah seperti itu, jika punya teman politik harus ada kewaspadaan. Kalau dia menu njukkan sikap bersahabat, ya dia sahabat,” lanjutnya di plomatis.

Begitu pula dengan pengusaha muda yang juga pecinta seni, Setiawan Djodi. Yang bersahabat dengan banyak putra putri politikus di negeri ini. Termasuk dengan salah satu anak mantan presiden Suharto,  Sigit Haryoyudanto.. Walau saat Soeharto jatuh, keluarga sigit sedang banyak di hujat orang. Djody tidak mengelak di bilang punya hubungan khusus dengan sigit.

“Jangan jadi pengkhianat. Cuci tangan seperti orang ketakutan punya sahabat anaknya Suharto. I am the warrior.  Saya punya darah gowa bugis.  Prinsip saya daripada mati tua tak terhormat, lebih baik mati muda terhormat. Makanya jangan jadi penakut, pasrah saja. Demikian menurut  Djody yang banyak belajar dari tokoh pewayangan dan ajaran islam dalam memahami value of life. Djody mengatakan, ada enaknya juga bersahabat dengan Sigit. Pada tahun 1990 saya bisa bilang Bento, dia nggak marah, malah bertanya Bento itu siapa. Saya jawab, ya, kita kita ini, “ ujar Djody sambil tertawa.

Lalu andaikata ada pengkhianat, apa yang akan di lakukannya? Dengan suara lantang,  Djody berkata, “pengkhianat itu harus di libas , jangan di kasih ampun”.

Begitulah persahabatan, seperti layaknya perkawinan, persahabatanpun tidak selalu berkembang kearah yang diinginkan. Maka , satu hal yang menyebabkan persahabatan dapat terus berjalan adalah , toleransi terhadap perubahan kebutuhan sahabat anda.

Selama kesalahan yang di lakukan sahabat kita masih bisa di maafkan, maka meminjam istilah penulis cerita anak asal Inggris Enid Blyton, bahwa “ persahabatan memang takkan  putus oleh sebuah pertengkaran” .

(Oleh Sayuri Yosiana dengan inspirasi dan adaptasi dari sebuah artikel tentang persahabatan dari majalah sartika 1997)