Mengenalkan Spirit Ramadhan Bagi Anak-Anak

Tahap ini penting agar anak tertarik dan tidak merasa beban dalam belajar berpuasa. Umumnya anak-anak suka dengan hadiah yang berbentuk materi. Maka sebagai tahap awal, tak salah bila orangtua menjadikan iming-iming hadiah sebagai langkah awal membuat sang anak tertarik. Ini untuk melatih fisik dan psikis anak bahwa betapa pentingnya berpuasa dibulan Ramadhan bagi mereka sebagai penganutnya. Untuk kedepannya tentu saja iming-iming hadiah tidak perlu lagi dilanjutkan. Agar anak belajar untuk ikhlas dan tulus dalam  memahami setiap inti ajaran agama. Iming-iming hadiah hanya pantas dilakukan bagi anak-anak usia TK atau SD.

Lalu, kalau anak sudah terpancing dan tertarik mencoba berpuasa,bagaimana kita menjaga agar spirit itu tetap ada sampai batas waktu berbuka ataupun menurut kesanggupan sang anak?. Tentunya dengan berusaha membuat anak agar tidak fokus pada tekanan fisik yaitu lapar dan haus. Misalnya dengan mengalihkan perhatian mereka ke aktivitas yang menyenangkan, menginspirasi daya imajinya, serta mendidik. Seorang  tetangga membuat anaknya sibuk menggambar yang memang menjadi hobi si anak dalam menuangkan ekspresi seninya. Atau bermain puzzle, belajar membaca Alqur’an serta membekali anak kisah-kisah inspiratif yang memotivasi mereka untuk berkarya sejak dini. Ada lagi yang mengajak anaknya membantu membuat penganan untuk berbuka. Hal ini mungkin  lebih riskan, karena bisa jadi anak malah timbul hasratnya untuk mencicipi dan akhirnya berbuka sebelum waktu yang telah disepakati.

Apa itu waktu yang telah disepakati? Tak lain adalah negosiasi kasih sayang antara anak dengan orangtuanya yang sedang berusaha mengenalkan spirit berpuasa pada sang buah hati. Anak kecil yang masih dibawah umur dan tidak diwajibkan berpuasa, bisa kita ajarkan untuk mencoba berpuasa sesuai kemampuannya. Misal dalam jangka waktu sejam, dua jam, tiga jam, sampai setengah hari saja. Dan hal ini sebelumnya haruslah dibicarakan pelan-pelan dan dengan kasih sayang agar anak tidak merasa dipaksa apalagi ditekan untuk menjalani perintah agama yang belum tentu dia mengerti maknawinya secara dalam. Dunia anak adalah belajar dan bermain. Belajar mengenal sesuatu yang baru itu penting, namun dengan cara yang tidak serius, alias seperti kita mengajaknya bermain sesuatu yang menyenangkan dan memicu tantangan tersendiri bagi diri si anak. Dengan cara yang penuh kasih, gembira dan tidak menakut-nakuti, diharapkan anak akan dengan senang hati melakukannya.

Saya suka sedih bila melihat seorang anak kecil menangis minta makan atau minum, namun orangtuanya justru memarahinya dan menasehatinya panjang lebar tentang pentingnya belajar berpuasa. Agar masuk Syurga, tidak masuk Neraka.