Mengenalkan Spirit Ramadhan Bagi Anak-Anak

Bagaimana daya fikir seorang anak akan mampu menggapai soal makna Surga dan Neraka dengan aktivitas yang baru dia kenal? Rasanya kita belum apa-apa sudah menakut-nakutinya terlebih dahulu. Nanti tidak disayang Tuhan, lho nak. Nanti akan masuk neraka orang yang tidak mau berpuasa. Nanti tidak dapat pahala, tidak naik kelas dsbnya. Adalah tidak bijak membuat anak berfikir secara dini tentang konsep Neraka dan Syurga.

Lebih penting mengajar mereka dengan belajar lebih banyak tentang budi pekerti, makna kebersamaan, makna toleransi, dan makna beribadah lewat hati. Dan tidak sekedar membombardir dengan teori-teori lewat logika mereka yang belum sampai.

Mengasah logika memang penting, tapi bisa dilakukan bila usia anak sudah cukup matang untuk memahami konsepsi apapun yang berhubungan dengan agama atau ilmu baru lainnya.. Termasuk tentunya dalam menjalani ibadah Ramadhan yang juga termasuk salah satu ibadah yang maha penting bila dilihat dari sisi logikanya. Tapi kalau kita menjalaninya tanpa jiwa, maka ibadah Ramadhan hanya akan berakhir dengan  selesainya salah satu kewajiban  yang harus dijalani. Setelah itu apa? Bagaimana? Akankah berlanjut ke hari-hari baru pasca Ramadhan? Atau kita mulai lagi dengan toksin-toksin baru yang menurut logika kita, ah..nantikan bisa dibersihin lagi di Ramdhan berikutnya. Ya, kalau usia kita masih mampu menjangkau Ramadhan berikutnya. Kalau tanpa kita sadari sekarang merupakan Ramadhan terakhir kita, bagaimana? Kita tak punya kesempatan lagi menjalani ibadah dengan spirit jiwa. Itulah mengapa kita sebaiknya tidak menjadikan contoh diri sebagai contoh yang baik untuk meneruskan tradisi berpuasa kita pada anak-anak. Karena cara kita berpuasa atau memaknai Ramdhan, belum tentu benar. Dan anak-anak hanya akan menjadi korban tradisi oleh sesepuh-sesepuhnya yang hanya sebatas  memenuhi kewajiban, tanpa memaknai sisi spiritualnya secara lebih mendalam.

Kita bisa mengajari anak-anak itu bahwa berpuasa tidak hanya suatu kewajiban kalau mereka sudah dewasa kelak. Tapi juga mengajarkan bahwa berpuasa tidak hanya sebatas tidak makan, tidak minum, tidak boleh jajan, tidak boleh ngambek, tidak boleh mengganggu adik, tidak boleh nakali kakak, dsbnya. Tapi juga mengajarkan bagaimana berdoa agar puasa kita menjadi berkah, agar tambah rajin belajar, tambah baik dengan teman, tambah mengenal Tuhan. Dan yang lebih penting adalah mengajarkan anak untuk lebih peka pada situasi dirinya saat sedang merasa lapar, tapi tidak boleh makan, atau tidak ada makanan. Apa yang sedang dirasakannya? Sedihkah? Perihkah perutnya? Lemaskah? Dari situ kita bisa memberi pengertian, begitulah kalau orang yang sedang kelaparan. Dan ada banyak teman-teman seusianya yang merasakan hal
tersebut sepanjang hari, bahkan mungkin sepanjang hidupnya.