Mengenalkan Spirit Ramadhan Bagi Anak-Anak

Tentu saja anak usia TK belum mampu menyerap maksud kita. Tapi dengan demikian setidaknya kita bisa mengajarkannya untuk tidak boleh pelit, harus mau berbagi pada teman yang kesusahan, atau mau memberi sedekah pada pengemis yang suka mampir kerumah. Agar pengemis yang tidak punya uang buat makan atau jajan itu, bisa makan dari hasil sedekah si anak.

Jangan menganggap remeh sensivitas seorang anak. Saya sangat ingat, bagaimana saya menangis karena melihat seorang anak tukang sampah makan nasi tanpa lauk di ujung jalan dekat rumah saya. Saya ingat, bagimana dia dengan polosnya datang kerumah minta minum karena uangnya habis untuk beli nasi saja. Saya saat itu sunggguh tidak memahami kenapa uangnya kok dihabiskan untuk beli nasi, tapi tidak disisakan untuk beli minuman. Tapi logika saya yang belum sampai, tertutup oleh jiwa saya yang tersentuh karena tiba-tiba terbayang bagaimana rasanya kalau saya haus, dan tidak punya uang untuk beli minum. Dan rumah saya jauh. Akhirnya saya meminta ibu saya untuk memberi sebotol minuman, plus uang agar anak tukang sampah itu bisa beli minuman baru. Kan kasihan, ibu kalau dia haus lagi. Demikian yang saya ingat saat itu.

Namun ibu saya tidak mau langsung memberikan uangnya. Beliau malah meminta saya membuka celengan untuk diberikan sebagian pada anak tukang sampah itu. Menurut ibu saya, kalau kita sedang punya uang banyak, tak ada salahnya berbagi dengan uang kita sendiri. Dan tidak mengharapkan orang lain yang selalu berbagi. Dengan gayanya yang lembut, ibu mengajarkan spirit berbagi, bagi sesama teman meski belum dikenal. Maka dengan penuh rasa bangga saya membuka celengan dengan dibantu ibu,lalu memberinya sebanyak mungkin pada sang anak. Ibu juga memberi contoh bahwa dia ingin baik hati seperti saya, putrinya. Beliau membuka dompet dan memberikan uang pada saya agar sekalian diberikan pada anak tukang sampah yang setia menunggu didepan rumah. Tak pernah mampu saya lupakan ekspresi teman kecil saya itu. Kedua telapak tangannya penuh uang dan dengan berbinar mengucapkan terimakasih kepada kami. Tak lupa ibu mengajak saya untuk membekali makanan, kue, dan minuman untuk teman baru itu. Jiwa kanak-kanak saya merasa penting karena telah diminta ibu untuk saling berbagi. Dan saya merasa puas dan bangga karena anak tukang sampah itu pulang dengan membawa banyak oleh-oleh dari kami. Pasti dia tidak akan lapar dan haus lagi, fikir saya saat itu.

Mungkin hal tersebut terlihat remeh. Tapi percayalah, seorang anak akan merasa penting dan bangga bila dilibatkan melakukan sesuatu dengan cara yang bersahabat dan mampu menyentuh kepekaan jiwanya. Karena anak-anak cara berfikirnya polos, langsung melihat kenyataan, dan mudah kita sentuh hatinya bila caranya tepat.

Begitupun dalam menjaga spirit Ramadhan anak-anak di bawah usia wajib puasa. Tak bisa main perintah. Tapi bertahap. Dan tentunya disesuaikan dengan seberapa lama anak mampu menjalani puasanya agar ibadah puasa tidak lagi sebagai sesuatu yang justru membuatnya sengsara karena tidak boleh makan, minum, jajan dan sebagainya. Beri hiburan agar puasa menjadi sesuatu yang menyenangkan. Pancing jiwa ingin  tahu pada dirinya, bagaimana sih rasanya kalau bisa berpuasa sampai full. Beri pujian bila dia dapat melakukannya. Beri pujian juga bila dia tak tepat waktu melakukannya. Bahwa berusaha dan mencoba merupakan bentuk proses yang jauh lebih baik dan penting , ketimbang terpaku pada hasil akhirnya.

Selamat mengenalkan spirit Ramdhan bagi anak-anak anda.

Oleh Sayuri Yosiana

Catatan: Ditampilkan kembali dari tulisan tanggal 9 Agustus 2010