Menulis Sebagai Terapi Pikiran, Emosi, dan Batin

Menulis adalah sebuah kegiatan yang dapat dilakukan oleh siapapun dari berbagai profesi. Anak-anak  juga sudah belajar menulis  ketika masih di taman kanak-kanak atau baru memasuki sekolah dasar.

Setiap orang  memiliki tujuan menulis yang berbeda-beda. Ada yang menulis  untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan namun ada juga yang menulis sebagai tempat mencurahkan apa saja yang sedang dirasakan, dialami dan Menulis Sebagai Terapi Emosi, Kabarsehat.com, Kesehatan & Penyembuhan Holistikdipikirkan. Bagi seorang yang senang menulis, sebuah  tugas menulis adalah tantangan yang menyenangkan. Terlepas dari apa tujuan seseorang menulis, terdapat beberapa manfaat positif yang sama bagi setiap penulis

Menulis akan mendorong berpikir logis, sistematis dan kreatif

Menulis dalam prosesnya akan menggunakan kedua belahan otak. Menulis adalah sebuah proses  mengkaitkan-kaitkan antara kata, kalimat,  paragraf maupun  antara bab secara logis agar dapat dipahami. Proses ini mendorong seorang penulis  harus berpikir secara sistematis dan logis sekaligus kreatif.

Ketika seseorang berhasil menulis sebuah artikel, diari, buku, opini , dll, hal ini membuktikan bahwa pikiran logis, sistematis dan kreatif  berfungsi dengan baik.

Dengan menulis maka neuron-neuron dalam otak manusia menjadi terbiasa digunakan dan membentuk jalur-jalur baru yang tertata  Jalur-jalur neuron yang tertata rapi akan memudahkan akses sehingga memudahkan sebuah informasi di temukan. Inilah yang menyebabkan proses menulis mampu mendorong meningkatkan daya ingat manusia.

Bisa anda bandingkan dengan bagaimana mencari ribuan file di sebuah hardisk komputer yang direktori penyimpanan file tertata rapi sesuai klasifikasinya sedangkan di hardisk yang lainnya fle tersimpan di dalam beberapa direktori tanpa jelas klasifikasinya, tentu akan kesulitan untuk mencarinya, kecuali menggunakan perangkat lunak tambahan yang berfungsi sebagai mesin pencari.

Menulis mendorong seorang penulis untuk berinteraksi dengan orang lain.

Setelah seorang penulis menghasilkan karya berupa artikel, cerita ataupun berupa buku, hampir dapat dipastikan  akan ada pembaca yang ingin berinteraksi dengan sang penulis. Inilah salah satu aspek manfaat sosial bagi seorang penulis karena mendorong dia untuk berinteraksi dengan orang lain dan menjaga komunikasi dengan pembaca. Para pembaca tidak selalu harus orang yang tidak dikenal sang penulis , bisa saja orang disekitarnya yang dikenal tapi jarang berinteraksi. Sehingga interaksi terjadi lewat tanggapan dan apresiasi terhadap hasil karya sang penulis .

[smartads]

Menulis juga  mendorong untuk   menjadi bijaksana

Menuliskan segala perasaan, masalah, dan konflik yang terjadi dalam hidup akan mendorong  orang menjadi semakin bijaksana. Dengan menulis diari kita akan belajar berkompromi dengan setiap masalah yang ada. Belajar memahami masalah dan tidak sekadar mengutamakan ego semata. Semakin banyak melibatkan proses menulis dalam menghadapi permasalahan, kita akan menjadi semakin peka dan mampu menggunakan kepala yang dingin ketika memutuskan sesuatu.

Dengan memetakan masalah  dalam tulisan maka segala sisi persoalan akan terlihat lebih jelas. Hal ini akan memudahkan kita dalam mencari solusinya.

Menulis sebagai terapi batin melalui pelepasan emosional

James Pennebaker membuktikan bahwa menuliskan perasaan-perasaan akan membawa pengaruh yang positif bagi kesehatan dengan meningkatnya kekebalan tubuh. Lewat risetnya, ternyata mereka yang menuliskan perasaan-perasaannya melalui  diari (catatan harian) memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik di bandingkan yang tidak.

Kisah yang ditulis seorang  ibu  di blognya rinurbad.multiply.com semoga dapat menjadi inspirasi tentang manfaat menulis sebagai terapi batin.

Empat tahun silam, saya terkapar sakit selama kurang-lebih tiga bulan. Kondisi saya begitu lemah, bahkan lebih parah daripada sewaktu keguguran, sehingga saya merasa sulit untuk bertahan dan hampir menyerah. Seorang kerabat dekat berkata, “De, kalo kamu punya beban pikiran atau masalah..jangan dipendam. Tulis buku harian, tuangkan isi hati kamu lalu robek-robek biar nggak ada yang tahu.”

Buku harian, yang sempat menjadi sahabat karib saya semasa remaja, raib dari kehidupan saya setelah menikah. Bukan salah suami, ia tak pernah melarang saya sedikit berahasia dan berusaha menampung segala keluh-kesah setiap saat. Bukan pula salah rutinitas perkawinan. Saya hanya mengira tidak membutuhkan jurnal lagi.

Saya gemar menulis surat pada diri sendiri. Tak ada yang hilang sampai  sekarang. Bahkan, seperti kata dokter James W. Pennebaker dalam Ketika Diam Bukan Emas, saya merasa jauh lebih baik. Manfaat yang menjadikan saya kian cinta menulis ini membuat saya tak terlalu sulit merenungkan apa yang ingin saya tuturkan.

Apapun bentuknya, menulis adalah sebentuk pembebasan jiwa dari tekanan-tekanan dan kepahitan yang tertelan di masa lalu. Alhamdulillah, suami sangat mendukung. Ia lebih suka saya menulis daripada minum obat-obatan yang jelas sudah mengikis ketahanan fisik saya. Dengan menulis, saya tak lagi kesepian. Saya dapat berbincang dengan diri sendiri kala suami tidak dapat mendampingi. Gangguan lambung kronis yang saya derita pun sudah jarang kambuh, kecuali bila terjadi kejutan-kejutan psikologis di luar kendali saya.

Manfaat menulis sebagai terapi batin juga dapat di simak dari pendapat  seorang penulis di blog pakde.com:

“Selesai menulis, seringkali kita lega, plong, rasanya beban yang tadi menghimpit telah tersingkir begitu saja. Kadang ia juga tidak memberi manfaat seinstan itu, tapi bekerja dengan cara berbeda. Selesai menulis, misalnya, kita seperti menemukan sesuatu yang begitu berharga dalam tulisan kita. Atau, selesai menulis, tiba-tiba kita memperoleh pencerahan, yang tak bakal didapat tanpa menulis dulu. Keduanya bisa menginspirasi kita untuk menyelesaikan sumber permasalahan – kalau ada.

Memberi kesempatan orang lain buat membaca tulisan kita juga sama artinya membagi persoalan – ekstremnya seperti pasien curhat pada psikolog atau psikiater. Terima kasih kalau ada yang membagi pengalaman serupa atau membantu mencarikan jalan keluar. Kalau pun tidak, sekurangnya orang yang membaca bakal berempati dan lebih memahami kita.”

(ab, Kabarsehat.com, diolah dari berbagai sumber)