Misteri Puasa dan Persepsi Indera Terhadap Tubuh Manusia 4/5 (2)

Misteri puasa perlahan-lahan mulai disingkap dalam sains modern. Puasa adalah sebuah tradisi sejak awal peradaban manusia. Dengan sejarah panjangnya tradisi dan ritual ini memiliki tafsir multidimensional untuk memahaminya. Jadi bukan sekedar dimensi keagamaan dan spiritual tapi juga dimensi kesehatan dan sains. Dalam dimensi sains, pemahaman akan ritual puasa akan membuat manusia masuk dalam pemahaman akan dimensi tubuh manusia yang lebih dalam yaitu manusia dalam mikrokosmos dan makrokosmos.

misteri puasaDalam ajaran kejawen ada puasa mutih. Ritual puasa ini di lakukan hanya minum air putih dan nasi putih tanpa lauk. Untuk level yang sudah tinggi biasanya puasa putih dilakukan selama 41 hari. Syarat sahur dan berbuka puasa sama dengan ritual puasa yang diatur oleh Rasul.

Bagi kita orang yang terbiasa dekat dengan kebiasaan makan , rasanya ritual puasa mutih itu tidak akan mampu. Dan lagi terkesan menganiaya diri. Bahkan menurut ilmu kesehatan, itu tidak baik untuk tubuh. Apa hasilnya ? Apabila orang berhasil puasa mutih, maka secara kebatinan orang itu lebih kuat yang menurut orang awam terkesan magic.

Teman saya beragama Budha ortodok pernah melakukan ritual puasa selama 7 hari 7 malam tanpa makan kecuali minum. Dia merasa nyaman dan tenang. Bila dia semedi, tubuh ringan seperti kapas. Makanya itu menjadi rutinitas baginya untuk menjaga tubuhnya tetap sehat dan pikiran serta batin juga sehat.

Ada teman saya di Macao yang bisa menembus kayu tebal dengan kedua jarinya. Hanya sekali tekan, kayu tebal itu tembus. Kedua jarinya tetap seperti semua tanpa ada goresan. Saya perhatikan dia melakukan itu tanpa tenaga. Namun walau saya lakukan dengan tenaga tidak mungkin bisa melakukan hal yang sama dengan dia.

Kekuatannya seperti magic. Menurutnya itu bukan magic. Tapi berkat latihan berpuluh tahun. Dia setiap hari latihan menggoreng pasir dengan menggunakan tangan sebagai sendok. Bertahun tahun itu dia lakukan. Berkali kali tanganya melepuh dengan rasa sangkit sangat. Namun dia ulang kembali setelah sembuh. Lama lama rasa sakit itu hilang. Saat itulah dia bisa menembus tembok tebal dengan dua jarinya.

Apa yang dilakukan oleh teman saya yang berpuasa mutih dan ala budha, adalah membunuh rasa lapar dan juga teman yang latihan berat menggoreng pasir dengan tangannya sebagai sendok adalah ritual membunuh rasa sakit.

Kedua cara itu adalah suatu proses menghilangkan ” rasa “. Apapun ” rasa” itu kembali pada dirikita sendiri. Jeruk itu manis, tapi itu hanya dilidah. Lewat lidah “rasa manis ” itu hilang. Kalau kita tidak ada lidah tentu tidak merasakan manis. Namun rasa manis itu tidak datang begitu saja tapi lewat proses berpikir melahirkan persepsi bahwa jeruk itu manis. Rasa manis itu tidak pada jeruk tapi pada diri kita sendiri. Jeruk tetaplah jeruk.

Nah , kalau kita bisa meng eliminate “rasa ” maka persepsi kita terhadap materi juga berubah. Otomatis nafsu sebagai pemicu timbulnya rasa lewat pikiran akan berkurang bahkan dengan latihan berat bisa hilang sama sekali. Dengan begitu, secara kejiwaan kita kuat. Kita tidak lagi terisolasi oleh nafsu dan pikiran yang mendorong ktia tergantung kepada materi..

Ritual puasa yang diajarkan dalam islam banyak dimaknai oleh orang. Namun intinya bertujuan untuk meraih taqwa. Taqwa itu adalah dekat kepada Allah. Mendekati Allah tentu tidak bisa dengan nafsu dan pikiran tapi dengan jiwa yang bebas dari ketergantung terhadap materi. Bila kita bisa mencapai ini maka kita akan kuat secara lahir maupun batin.

Kekuatan jiwa kita menuntun kita untuk tidak mendewakan materi dan menjauh dari kesenangan yang bisa menjebak nafsu dan pikiran kita menjadi lemah. Kalau berharta kita suka berbagi. Karena harta bukan apa yang didapat tapi apa yang diberi. Kalau miskin kita kuat dalam kesabaran, Karena hidup bukan apa yang dialami tapi bagaimana melewatinya. Kalau kita berkuasa, kita cenderung menjadi pelindung dan rendah hati daripada sombong. Kalau kita lemah kita cenderung berserah diri kepada Tuhan tanpa takut. KIta menjadi makhluk istimewa karena apapun yang terjadi baik bagi kita.

Ya puasa adalah ritual untuk membangun persepsi bahwa materi itu tidak ada. Semua di alam ini akan musnah dan lenyap kecuali Allah. Dan tentu membangun persepsi ini tidak bisa mengandalkan pikiran dan nafsu tapi keimanan.

Bahasa keimanan adalah bahasa meniadakan diri kita dan semua yang ada kecuali Allah. Yang tahu kita puasa hanya Allah tapi manfaatnya kembali kepada kita sendiri. Kalau persepsi puasa kita benar maka apapun godaan tidak akan menggoyang keimanan kita.

Erizeli Jely Bandaro

Inilah salah satu misteri puasa yang coba diungkapkan oleh Erizeli Jely Bandaro dalam sebuah ulasanya di halaman facebooknya. Semoga bermanfaat.

Berikan Rating?