Spirit Ramadhan Bagi Umat Muslim di Tanah Air

Spirit RamadhanMemasuki Bulan Ramadhan umumnya umat muslim telah mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya. Dari mulai bersih-bersih  rumah, bahkan kadang sampai memindahtempatkan beberapa perabot rumah tangga agar suasana rumah lebih terasa fresh dan kondusif untuk menyambut bulan suci. Dan karenanya ibadah yang dilaksanakan menjadi terasa lebih ringan serta enjoy. Tidak terasa berat karena suasana rumah yang berantakan ataupun kotor. Memang, Ramadahan selalu memberi nuansa tersendiri bagi umat muslim. Meskipun sehari-harinya keadaan dan lingkungan rumah selalu rapi dan bersih, Tapi terasa ada suasana yang menspirit untuk menjadikan lebih baik lagi dan lebih kondusif lagi.

Tidak hanya soal kebersihan dan ketenangan suasana rumah yang jadi  perhatian. Namun juga fisik dan mental. Karena bagi umat muslim, ibadah Ramdahan mungkin merupakan ibadah yang terberat dan sangat kental dengan aturan-aturan agama agar nilai-nilai ibadah menjadi sempurna dan sebisanya tiada kesalahan yang dilakukan untuk mencapai  apa yang dinamakan dengan istilah KEMENANGAN.

Sebenarnya makna kemenangan disini biasanya tergantung dari persepsi masing-masing orang bagaimana menginterpretasikannya. Namun bila kita lihat dari sudut pandang agama, makna kemenangan yang dimaksud tentunya lebih kepada mampu mengendalikan hawa nafsu dari segala perbuatan yang dilarang agama, dan tetap bertahan untuk selalu dijalan yang telah ditetapkan. Puncak dari perjalanan tersebut adalah Hari Raya Kemenangan, yaitu Idul Fitri. Di negara kita umumnya lebih dikenal dengan istilah Lebaran.

Lalu bagaimana agar umat muslim mampu mengkondisikan dirinya dalam memasuki bulan full ibadah tersebut. Tentunya tidak semua orang mampu melakukannya dengan sesempurna aturan agama. Maka niat dan spirit sebaiknya lebih dulu diutamakan. Bukankah Nabi besar Muhammad SAW, dalam salah satu Hadistnya yang terkenal, pernah bersabda, bahwa segala sesuatu tergantung niatnya. Maka kalau dilihat makna sabda Nabi tersebut sudah jelas, bahwa niat merupakan fondasi utama dalam melakukan apapun, termasuk ibadah Ramadhan. Tak perduli bagimanapun situasi dan kondisinya, bagi umat muslim yang beriman, ibadah puasa seberat apapun haruslah tetap jalan. Karena merupakan perintah dari Tuhan. Apalagi dalam salah satu firmannya, Allah SWT juga sudah mewanti-wanti kepada hamba-NYA, bahwa puasa itu adalah untuk-KU. Dan AKU sendiri yang akan membalas-NYA.

Terlepas dari soal makna religinya, sebenarnya ibadah puasa mengandung spirit khusus, yakni spirit untuk saling berempati dan berbagi. Lewat puasa, kita diajar untuk menahan segala hasrat yang mungkin selama ini mudah saja bagi kita untuk mendapatkannya. Misalnya dalam hal makan dan minum. Bagaimana kita yang sehari makan tiga kali sehari dengan menu utama, selama satu bulan ini harus mampu kita tahan, kita tekan dengan segala keikhlasan dan kesabaran hati.

Termasuk kebiasaan  lainnya seperti merokok, ngemil, jajan dsbnya. Lebih utama lagi adalah, belajar untuk mengasah jiwa(batin). Tidak mudah marah, bergunjing, bercanda keterlauan, mengejek dan mengumpat orang lain, serta memendam perasaan denngki dan dendam. Dalam soal makan minum, juga kita diajar bagaimana makna berdisiplin soal waktu makan selama ibadah Ramadhan. Apa saja yang sebaiknya harus kita makan agar hasil puasa kita menjadikan tubuh lebih fit dan energik. Tidak lantas loyo karena asal makan, asal berbuka. Apa saja dimakan. Bagi mereka yang kekurangan, mungkin hak ini masih bisa dimaklumi. Karena tidak punya pilihan lain selain apa yang ada. Tapi bagi mereka yang mmapu, apa salahnya untuk memperhatikan pola makan yang lebih sehat? Agar pembersihan toksin dalam tubuh selama puasa,juga dapat maksimal dengan dibantu cara makan kita dan juga pemilihan bahan makanan. Termasuk seberapa banyak yang harus diasup. Yang tentunya berbeda dengan kebiasaan kita makan minum sehari-hari.

Kebiasaan makan kita sehari-hari umumnya tak terkontrol dengan baik. Maka kadang kita tak sadar sudah makan lebih dari tiga kali sehari. Selain tugas organ pencernaan menjadi lebih berat karena kemasukan apa saja yang kita makan, jiwa kitapun bisa menjadi tidak peka. Lewat puasa, kita mengajarkan raga dan jiwa untuk bermeditasi.

Karena jiwa yang peka biasanya dihasilkan dari keprihatinan. Keprihatinan yang dimaksud bukan hanya sebatas faktor ekonomi. Tapi juga karena dari hasil latihan yang bersifat kebatinan. Melatih batin salah satunya adalah lewat jalan berpuasa. Ingat dengan kisah-kisah orang dahulu kala yang suka melakoni berbagai jenis puasa? Misalnya ada leluhur kita yang suka melakoni puasa sesuai adat istiadatnya. Seperti puasa mutih (hanya makan nasi dengan garam), puasa Ngrowot (hanya makan umbi-umbian) atau puasa Pati Geni (menjauhi cahaya dari luar).Biasanya lakon puasa seperti ini banyak dilakukan oleh mereka yang berasal dari suku jawa atau sunda penganut kejawen. Atau umat diluar kejawen yang ingin mencobanya. Apapun niatnya, yang jelas makna puasanya tetap sama yakni menambah kepekaan batin, dan spirit untuk membersihkan jiwa raga dari energi luar yang tiap saat  mengotori. Lain kali akan saya bahas beragam puasa ini lebih jauh.

Orang jaman dulu dikenal sangat tekun dalam melakoni puasa. Bahkan ada yang  ekstrim, yakni puasa 40 hari tanpa makan apapun. Konon Sidharta Gautama seorang pangeran sebelum mewujud jadi Budhha, terlebih dahulu melakuakan puasa yang maha berat. Begitu juga dengan beberapa wali yang dikenal sebagai wali songo.

Puasa yang dilakukan untuk tujuan membersihkan bathin bagi orang-orang dahulu kala kadang terdengar lebih berat dari puasa Ramadhan yang masih bisa berbuka di malam hari, dan sahur di tengah malam jelang subuh sebagai awal mulainya puasa. Kita tidak tahu bagaimana nenek moyang kita sanggup melakukannya. Kembali pada niat, mungkin disitulah letak keteguhan yang dimilik oleh orang-orang dimasa silam. Bukankah kalau niat sudah terpatri, hal apapun akan dengan sukacita kita lewati?

Kembali lagi ke soal ibadah Ramadhan, puasa sebulan penuh tidaklah mudah bila niat kita setengah hati. Tak jarang ditengah jalan kita sengaja membatalkannya meskipun tak ada hal-hal yang mengharuskan kita untuk membatalkannya. Karena puasa Ramadhan hakekatnya hanya ditujukan bagi orang-orang yang sehat lahir bathin. Orang yang sakit, ibu hamil dan menyusui, orangtua yang sudah sangat renta dan tak kuat lagi,tidak lagi dikenai kewajiban. Namun kadang kita bisa melihat bahwa spirit Ramadhan begitu kuatnya, hingga banyak juga orang yang merasa sakitnya tidak parah tetap menjalankannya dengan suka cita. Orang tua yang sepuh, masih teguh menjalankannya dengan khusyuk. Bahkan banyak ibu hamil dan menyusui kadang tetap berpuasa dengan alasan bahwa dirinya masih sanggup dan dokter memperbolehkannya sebatas kemampuan dan selama tidak ada masalah dengan janin ataupun bayinya.

Nah, kalau orang-orang yang masuk dalam kategori yang tidak wajib puasa Ramadhan saja masih kuat spiritnya untuk melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh dengan keikhlasan karena Allah, lalu bagaimana dengan kita yang sehat tapi tidak bersedia untuk melakukan kewajiban itu? Bahkan berniatpun mungkin tidak terfikir karena sudah menganggapnya berat dan mengurangi produktivitas kerjanya. Bulan Ramadhan semestinya tidak hanya menjadi bulan penuh berkah dari sisi religi, tapi juga bulan detoksifikasi besar besaran bagi kita yang selama setahun penuh memenuhi tubuh kita dengan pola hidup yang asal makan, asal minum, tidak disiplin waktu dan tidak pernah mengasah jiwa untuk lebih peka karena fikiran disibuki untuk mencari uang demi pemenuhan kebutuhan material.

Berpuasalah dengan rasa bahagia. Tidak asal menjalani kewajiban. Jadikanlah puasa Ramadhan sebagai bentuk komunikasi kita pada Sang Maha Pencipta. Jadikanlah puasa kita sebagai asah dan olah batin untuk lebih peka pada kebutuhan tubuh dan juga kebutuhan orang lain yang hidupnya jauh dibawah standar kesehatan. Karena hakekat puasa yang baik adalah yang mencakup meditasi jasmani dan rohani. Agar jiwa raga mencapai keseimbangan yang jauh lebih sempurna dalam memaknai puasa itu sendiri. Dengan demikian kita menjadikan spirit Ramadhan sebagai masukan energi positif bagi jiwa raga, dan meminimalisir serta menghapus energi negatifnya. Untuk selanjutnya akan kita bahas lagi sisi puasa dalam berbagia sudut.

Selamat berpuasa bagi sahabat kabarsehat, pembaca kabarsehat, dan umat muslim pada khususnya. Salam sehat, semoga berkah adanya.

Oleh Sayuri Yosiana